Jumaat, 8 November 2013

WAJAH FAKULTAS TEKNIKKU-DULU DAN SEKARANG.




            Perkembangan dekade sebuah sejarah itu tak lepas dari dinamika jatuh bangun, berprestasi dan gemilang,  bangkit dan terpuruk. Hal itu tentu akan memberi cerita dan tambahan lembaran catatan untuk keberhasilan suatu masa. Bermula dari kristalisasi ide yang menjadi suatu gagasan besar dari beberapa insinyur seperti Ir. Jacob Rais (kepala kantor Pendaftaran Tanah Semarang), dan Ir. Gunawan, Prof.ir Soemarmo, Ir Subarkah, Ir. R. Oei Djwee Hwie, Ir.R.Soenardi, Ir.Lie Kok Gwan, Ir.Moeljadi, dan Ir.Tjo Tjeng Kie untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi untuk teknik di Kota Semarang. Maka pada tanggal 20 Oktober 1958 berdirilah Universitas Semarang yang kemudian namanya diganti dan diresmikan oleh Ir.Soekarno menjadi Universitas Diponegoro sebagai perguruan Tinggi Negeri. Peresmian penggantian nama ini dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 1960 yaitu pada saat ulang tahun atau dies Natalis ketiga universitas Semarang.
            Proses kegiatan belajar mengajar waktu itu dilaksanakan ketika sore hari dengan meminjam gedung di daerah semarang bawah sekitar tugu muda yang sekarang dikenal orang sebagai wisma Perdamaian. Kemudian pindah di Jl. MT haryono no.427 milik Pepekuper Teritorium 4 sebagai kampusnya. Kemudian pindah lagi ke “Gedung Putih” di kampus Pleburan. Dan berakhir di Tembalang dibangun Fakultas Teknik dengan melalui proyek Universities Development and Rehabilitation (SUDR). dan berlangsung sampai sekarang. Sehingga semua kampus UNDIP dan kegiatan belajar mengajar berpusat di satu daerah di Tembalang.
            Kalau kita bercerita ke belakang dan menilik sedikit informasi tentang berdiringya fakultas teknik 56 tahun silam, awal berdirinya Fakultas Teknik ini dibarengi dengan dibukanya program studi pertama yaitu Teknik Sipil. Dimana Teknik Sipil dulu merupakan Fakultas pertama sekaligus Jurusan Teknik pertama yang ada di UNDIP. Ketua jurusan yang merangkap jadi Dekan Fakultas Teknik dan Teknik Sipil adalah Prof.Ir.soemarman. Diikuti dengan perkembangan fakultas Teknik ditahun-tahun setelahnya, kemudian berdiri jurusan kedua yaitu Teknik Arsitekture pada tahun 1962 dengan ketua Jurusan pertama Ir.Sidharta. Jurusan ketiga yang berdiri adalah Teknik Kimia pada tahun 1965 dan diketuai oleh Ir.Nisyamsur.
            Setelah berhasil mendirikan ketiga program studi tersebut. 4 tahun berikutnya Fakultas Teknik membuka Penerimaan mahasiswa didik baru tahun 1969 untuk jurusan matematika. Dan ditahun 1988 memisahkan diri menjadi satu fakultas sendiri yaitu MIPA. Jurusan kelima setelah itu adalah jurusan Teknik Mesin diikuti dengan jurusan Teknik Elektro, Jurusan Perencanaan Wilayah Kota, Program Studi Teknik Industri, Program Studi Teknik Lingkungan, Program Studi Teknik Perkapalan, Program Studi Teknik Geodesi dan terakhir program S1 Sistem Komputer pada tahun 2008.
            Perkembangan fakultas Teknik dari tahun 1958 sampe 2013 sekarang ini, tentu memberi banyak perubahan signifikan antar beberapa hal. Misalnya dilihat darisegi program pendidikan, metode, sistem pendidikan, rasio penerimaan mahasiswa baru, jumlah mahasiswa yang terdaftar, sistem birokrasi yang disediakan, kurikulum, kaderisasi, riset, prestasi dan masih banyak hal lain.
DULU DAN SEKARANG
            Fakultas Teknik sekarang merupakan fakultas terbesar yang ada di UNDIP. 2/3 wilayah UNDIP ini dibangun untuk mahasiswa Fakultas Teknik. Dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar kira-kira sebesar 12 ribu mahasiswa dan 2 ribu mahasiswa setiap tahun yang masuk menjadi keluarga baru Fakultas Teknik. Sesuai dengan Rasio Penerimaan Mahasiswa Baru di masing-masing jurusan Fakultas Teknik, dimana tiap tahun mengalami peningkatan minat di beberapa jurusan. Misalnya ditahun 2011 menunjukkan peningkatan kompetensi 1:15 mahasiswa baru.
            Metode pembelajaran di Fakultas teknik diselenggarakan melalui perkuliahan secara klasikal, diskusi-diskusi dan seminar. Kemudian ada praktikum, penelitian dan pengabdian untuk mengembangkan potensi lulusan dan pembelajaran mahasiswa Fakultas Teknik. Dan sekarang metode pembelajaran ini terpusat ke mahasiswa yaitu Student Centered Earning.
            Untuk sistem pendidikan yang dilakukan sejak tahun 1980/1981, Fakultas Teknik menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS) kemudian terjadi perubahan kompetensi kurikulum dari yang semula berbasis isi (conted based) berubah menjadi kurikulum berbasis kompetensi ( competence based). Dengan mengacu SK Dirjen Dikti No. 232/U/2000 maka disusun kurikulum baru Fakjultas Teknik sesuai SK Rektor No.343/SK/J07/2002 kecuali untuk jurusan Teknbik Mesin dalam SK Rektor No.300/SK/J07/2003 dan Teknik Perkapalan SK NO.170/SK/J07/2004. Pengembangan kurikulum selanjutnya diperbarui pada tahun 2007/2008 sesuai peraturan Rektor no.193/PER/H7/2008. Sedangkan kurikulum baru tahun 2012 akan diberlakukan untuk mahasiswa baru angkatan 2012.penyelenggaraan masalah akademis ini mengikuti peraturan Rektor UNDIP no.209/PER/UN7/2012 tentang Peraturan Bidang Pendidikan.
            Sampai Juli 2012 sekarang ini, jumlah lulusan UNDIP kurang lebih 32 ribu orang yang terdiri dari Program D3, S1, S2 dan S3. Alumni ini tersebar di beberapa daerah dan menyandang berbagai gelar dan profesi pekerjaan di seluruh bidang ketenikan Indonesia. Kalau bicara soal rata-rata IPK mahasiswa Fakultas Teknik sampai tahun 2012 adalah di atas 3,2 dengan lama studi 4 th 3bulan.
            Untuk mendukung UNDIP menjadi Fakultas Riset tahun 2020, Fakultas Teknik UNDIP melalui koordinasi Unit Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM-FT) meluncurkan program hibah penelitian yang didanai pemerintah dan pada tahunn ini 2013 Fakultas Teknik juga bekerjasama dengan koperasi untuk program dana talangan penelitian mahasiswa seperti PKM sebelum turun dana langsung dari pemerintah.
            Untuk beberapa hal misalnya sistem kaderisasi ataupun organisasi kemahasiswaan. Fakultas Teknik juga selalu berbenah. Untuk tahun ini saja ada banyak hal yang diadopsi Fakultas Teknik untuk itu semua. Terkait dengan Sistem kaderisasi misalnya untuk seluruh jurusan di Fakultas Teknii Metode yang digunakan sudah bukan sistem evaluasi dari senior tapi lebih pada pengembangan ke bidang akademik seperti program Kreatifitas Mahasiswa, entrepreneur dan riset.
            Untuk peraturan mengenai organisasi Kemahasiswaan juga berbeda, untuk satu tahun terakhir ini. Fakultas Teknik mengacu pada keputusan Rektor yang mengatur tentang Organisasi Kemahasiswaan. Dan menurut wawancara dengan Pembantu Dekan 2 Fakultas Teknik Prof.Dr.Ir.Abdullah, MSc terkait dengan wisuda, senat mahasiswa serta pemira akan mengalami beberapa hal yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Untuk Senat pak Abdullah akan memberikan hak luas didalam melayani kebutuhan mahasiswa dan berkoordinasi penuh dengan Pembantu Dekan 2 Bidang Kemahasiswaan. Untuk wisuda fakultas pun begitu, mulai tahun 2014 besok akan diganti dengan Tasyakuran Kelulusan BEM untuk kakak-kakak Tenik yang akan lulus.
            Perkembangan danh pertumbuhan fakutas Teknik dari tahun 1958 sampai 2013, ibarat air dia ombak yang selalu naik turun dan ibarat burung dia terbang dari bawah ke atas. Pelan-pelan namuun bermakna besar. Fakultas teknik selalu berbenah, Fakultas Teknik selalu berusaha mengukir hal yang indah, yang lebih baik, yang berguna untuk kemajuan Undipku, Teknik dan Indonesiaku. (Hilda Inaya Ilma)
           

Mau Dibawa Kemana Masa Depan D3 ku?




D3 adalah sebuah program strudi diploma yang dibuka khusus untuk mendalami bidang keteknis an. Berbeda dengan s1 yang dicetak sebagai analitis. D3 lebih mengedepankan praktik dari teori. Lulusan D3 akan dibutuhkan banyak perusahaan didalam penggerak atau motor produksi. Kenapa? Karena tujuan pencetak generasi d3 bergelut di praktik yang langsung turun ke lapangan.
Tapi kenyataanya justru timbul kecemburuan social antara mahasiswa d3 dan s1.
Sudah menjadi semacam rahasia umum di antara kita bahwa ada semacam “kasta” dalam jenjang pendidikan tinggi. Yakni, kita tahu bahwa S1 dipandang lebih tinggi dari D3, bahkan mungkin D4 sekalipun. Sebagai contoh dalam dunia kerja, CPNS yang bergelar ahli madya ditempatkan pada golongan II/C, sedangkan yang bergelar sarjana pada golongan III/A. Di berbagai lowongan kerja, lebih banyak yang mencari lulusan S1 dibandingkan D3 dan D4. Jadi bukankah wajar jika banyak calon mahasiswa yang mendamba-dambakan gelar sarjana muda daripada diploma?
Kemudian baru- baru ini terdengar santer kebijakan baru undip yang akan berubah. Isu itu berkembang dimana menyebutkan bahwa program d3 di Undip akan dirubah sistemnya sama dengan Sekolah Vokasi d UGM atau diseragamkan menjadi 1 jurusan dengan jenjang berbeda di masing-masing program studi. Misalnya untuk Teknik Kimia. Yang semula ada beberapa jurusan Tekim dari D3, S1, S2,S3 yang dipisah akan digabung didalam satu tingkat pengawasan.
Hal itu memunculkan Protes dari mahasiswa   yang  khususnya mahasiswa program D3. Sebenarnya mau dibawa kemana sih nasib pendidikan mereka ini?
Apalagi ada isu lagi bahwa program transfer lanjutan dari D3 ke S1 akan ditutup. Kemudian bagaimana sistem keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia yang dalm UUD berhak mendapatkan Pendidikan yang sama??
Seharusnya ada kejelasan didalam implementasi perubahan sistem ini. Birokrasi harus tegas, harus  jelas. Jangan menelantarkan kami para mahasiswa D3 yang seakan-akan dianak tirikan dengan mahasiswa S1.

Ahad, 22 September 2013

Teknik dan Indonesia


Berbicara tentang teknik dan Indonesia semuanya tidak lepas dari peran para pemuda di dalamnya. Pemuda harapan bangsa khususnya para mahasiswa memegang peran yang dominan. Mereka bukan hanya sebagai pelaku namun juga penggerak.  Mereka bukan hanya penentu namun juga pelopor. Yah, mahasiswa. Bukan hanya berfungsi sebagai agent of change namun juga social control. Mereka memiliki peran yang luas. Untuk perubahan dan nasib sebuah Negara.
Untuk mahasiswa teknik misalnya, sebutan akrab bagi mereka adalah engineer. Rasanya bangga sekali kalau kita mampu menyandang gelar dan sebutan itu. Perjalanan 4 th yang melelahkan terbayar sudah. Yang diingat bukan hanya kesibukan dikampus, namun sekarang keberhasilan yang menanti kita di depan.
Kalau kita kaji lebih dalam Kehidupan mahasiswa teknik itu begitu berwarna. Mari kita berbalik arah untuk kembali pada masa ketika kita masih mengenakan pakaian hitam putih. Dari mulai masuk pertama kita bertemu dengan orang-orang serupa. Berseragam sama, beratribut sama. Hitam-putih dengan ID card tergantung di kepala.
Teknik, kata orang mahasiswa-nya aktif. Kata orang kami inisiatif, kata orang pula kami kreatif. Hidup sebagai seorang mahasiswa teknik akan mengukir lembar tambahan  di kertas lampiran catatan hidup kita. Anak teknik harus mampu berada diatas mahasiswa fakultas lain, anak teknik harus berani, anak teknik harus disiplin. Anak teknik harus cekatan. Tak boleh ada alasan ini itu. Tak boleh ada ringkihan kelelahan. Yang diemban hanya harus tetap semangat.
Dari awal kita diajari untuk mengasah softskill kita, dari mulai masuk ke salah satu lembaga organisasi sampai kita keluar dan mampu memanagement diri. Sebut saja salah satunya BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa), atau HM(Himpunan Mahasiswa). Disini kita akan belajar banyak tentang management diri, me-management waktu bahkan me-management hidup. Masuk ke dalam sebuah organisasi akan memberi banyak ilmu baru, mengantongi pengalaman menarik dan menyalami dan berrtemu teman-teman yang beragam.
Yah, Engineer- sebutan ini akan melekat kuat dalam diri teman-teman semua.
BUKAN bermaksud mengatakan bahwa engineering adalah jurusan terbaik ataupun jurusan yang "wajib" untuk teman-teman ambil. Namun, Memang engineer –lah cermin kehidupan berwarna yang tengah kami jalani..
Mahasiswa teknik adalah mahasiswa yang harus mampu memecahkan masalah, mahasiswa yang harus bisa memakai logika dan perhitunga dalam mengambil keputusan. Mahasiswa teknik ini,  mahasiswa yang menjunjung tinggi  solidaritas, kekompakan, kekeluargaan dan rasa saling menghargai dan menyayangi antar mahasiswa yang tinggi. Sebagai seorang mahasiswa teknik kita harus siap menghadapi segala hal yang menyangkut tentang kehidupan, bukan hanya dalam portal sempit intern dalam kampus. Tapi kita harus punya pemikiran lain yang jauh lebih luas dalam perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Kalian punya andil yang besar dalam pembangunan Indonesia, kalian punya pengaruh yang besar dalam pengelolaan suatu Negara. Negara terpaku pada teman-teman engineer semua. Negara butuh kita.   
Kalau kita jangkau lebih dalam tentang kedudukan kalmi para mahasiswa teknik. Ada perbandingan yang luar biasa tentang hubungan kami para sarjana muda teknik dengan kemajuan Indonesia.   Dalam beberapa dekade ini, hampir setiap negara berkembang terus menggalakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pasalnya mau tidak mau semua negara harus berkompetisi mempersiapkan diri menuju era perdagangan bebas dunia sesuai dengan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan World Trade Organization (WTO), dimana era perdagangan bebas ini akan berdampak ganda, disatu sisi memberikan peluang kerja seluas-luasnya antar negara, namun disisi lain meberikan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu tantangan dimasa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif disemua sektor industri dan sektor jasa.      
Melihat kenyataan inilah peran sarjana teknik di dalam melaksanakan perekonomian di Indonesia sangat dibutuhkan. Teman-teman lulusan Teknik akan menempati ruang yang besar di dalam kehidupan lanjut bangsa Indonesia. Padahal kenyataanya Jumlah sarjana teknik atau yang dulu disebut insinyur, ternyata sangat jauh dari kebutuhan.
Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa disampaikan bahwa saat ini Indonesia baru 11 persen dari seluruh total sarjana yang bergelar insinyur atau sekitar 1,05 juta dari 9,6 juta orang. Jika kondisi ini terus berlanjut, diperkirakan pada 2015 hingga 2025 mendatang, Indonesia kekurangan 15 ribu sarjana teknik per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah berencana menambah 100 politeknik baru, perguruan tinggi riset, dan perguruan tinggi pendidikan. Pemerintah juga bakal membuat 521 (satu per kabupaten/kota) akademi komunitas untuk tenaga terampil setempat.        
"Jangan sampai ketika pertumbuhan ekonomi bagus, kita malah kekurangan tenaga insinyur. Jangan sampai kekurangan ini diambil dari insinyur asing," kata mantan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa.
Oleh karena itu, teman-teman semua, penuhi kebutuhan sarjana teknik di Indonesia. Beri perubahan untuk Indonesia yang jauh lebih baik. Penuhi dan majukan sumber daya manusiaa. Semangat para engineer muda. Kita-lah diponegoro penerus bangsa.
Teknik JAYA!!


Ahad, 14 April 2013

CHAUVINISME-BUDAYA MENCINTAI YANG BERLEBIHAN


Budaya mencintai bangsa sendiri, baik  ras, golongan, bangsa dan kelompok menjadi suatu hal yang wajar atau mungkin malah menjadi kewajiban yang harus mereka laksanakan. Namun bagaimana jika budaya mencintai tersebut dilaksanakan secara berlebihan bahkan beralih fungsi ke portal pendewaan bagi masing-masing golongan dan kelompoknya sendiri tanpa menghiraukan golongan atau kelompok lain?
Ya, budaya mencintai kelompok dan golonganya sendiri secara berlebihan inilah yang disebut chauvinisme.  Kalau dalam lingkup suatu Negara terdapat perbedaan tipis antara chauvinism dengan nasionalisme. Pengertian chauvinisme bagi suatu Negara identik dengan rasa cinta tanah air dengan menganggap bangsa dan ras lain jauh berada dibawah kelompoknya. Contohnya seperti yang dikemukakan oleh A Hitler dengan kalimat “Deutschland Uber”. Alles in der Welt (Jerman di atas segala-galanya dalam dunia) yang merupakan slogan pendewaan bagi Negara jerman.
Kita semua terlanjur munafik jika berurusan dengan istilah chauvinisme ini. Kenapa? Karena hampir di semua Negara atau bangsa chauvinism tumbuh, membangun pagar pemisah kasat mata. Chauvinism menimbulkan perbedaan arti terhadap rasa cinta terhadap golongan atau kelompoknya sendiri. Chauvinisme memunculkan pembatas di antara individu dan kelompok lain yang berbeda.
Sebuah contoh nyata bagi para mahasiswa adalah chauvinism dalam portal kampus. Ketika awal mula penerimaan mahasiswa baru, solidaritas mereka para  mahasiswa baru, tumbuh hanya di antara satu kelompok atau golongan yang berasal dari daerah yang sama saja. Mereka enggan bersosialisasi dengan kelompok lain di sekitar mereka. Misalnya seperti ini, jika saya sedang berada di daerah A, sedang saya berasal dari daerah B. Maka biasanya saya akan mencari teman dari daerah B terlebih dahulu sebelum mencari teman dari daerah A. Mengapa? Karena akan lebih mudah menerima persamaan budaya dibandingkan perbedaanya saat kita merasa asing dengan daerah tertentu.
Yah, Itu contoh nyata yang kita lihat di kampus. Para mahasiswa baru cenderung bergaul dengan mereka yang berasal dari satu daerah dan enggan berkumpul bersama mereka yang berasal dari daerah lain.
Potret virus chauvinisme ini bahkan juga merebak di lingkup fakultas. Masing-masing mahasiswa dari jurusan yang berbeda cenderung akan mengagung-agungkan jurusanya sendiri. Mereka bahkan enggan memuji dan mengakui kelebihan dari jurusan lain. Bagi mereka jurusan mereka lah yang paling utama, paling bagus, paling keren. Mereka mendewakan jurusan masing-masing. Memberi supporter yang berlebihan hingga menimbulkan perbedaan dan kesenjangan.(Hilda Inaya I )

UANG KULIAH TUNGGAL (UKT) – FATAMORGANA PENDIDIKAN SARJANA MURAH


Kebijakan pemerintah tentang peraturan pendidikan di Indonesia dirasa semakin mencekik hampir semua golongan, bukan hanya dari lapisan masyarakat yang berpenghasilan rendah tapi dampak ini menerpa golongan masyarakat yang notabenya sudah mampu memenuhi kebutuhan material dan financialnya.
Kondisi perekonomian masyarakat sangat bervariasi. Ada warga miskin, sedang, menengah, kaya, dan sangat kaya. Kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan anak-anaknya beragam. Seperti yang diterapkan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Pada mulanya ketika kita kembali pada tahun-tahun sebelumnya, seorang mahasiswa bisa memperkirakan berapa biaya yang akan mereka keluarkan untuk sampai menyandang gelar sarjana.
Ada beberapa jalur masuk di UNDIP, dari mulai SNMPTN tulis, SNMPTN Undangan, PSSB sampai dengan UM. Terdapat perbedaan biaya yang dikeluarkan mahasiswa sesuai dengan jalur masuknya,. Kita tinjau mahasiswa yang lewat SNMPTN Tulis atau undangan dengan mahasiswa PSSB dan UM. Uang dan biaya yang mereka keluarkan berbeda. Untuk tahun 2012 kemarin saja, dari SNMPTN Tulis dan Undangan mahasiswa mengeluarkan uang sekitar 12-13 juta untuk fakultas teknik , sedangkan untuk jalur masuk PSSB hampir  54 juta dan UM sekitar 25 juta. Kebijakan universitas ini dimaksudkan untuk mensubsidi dan menekan biaya pendidikan disesuaikan dengan kemampuan dan penghasilan orang tua masing-masing mahasiswa.
Mahasiswa PSSB dan UM ditarik biaya SPI lebih tinggi dibanding mahasiswa SNMPTN, hal ini sebagai sebuah batu loncatan agar masyarakat Indonesia mampu menyelesaikan pendidikanya sampai gelar sarjana. Misalnya dengan Bidik Misi dan beasiswa.dan mungkin inilah kebijakan yang disebut dengan  subsidi silang.
PT punya peran besar dalam pengentasan rakyat miskin dan mengantarkan bangsa menjadi lebih maju dan bermartabat. Banyak contoh dalam kehidupan di lingkungan kita yang menunjukkan keberhasilan seseorang dicapai melalui pendidikan tinggi.
Ada masalah yang menerpa dunia pendidikan di Indonesia, kemiskinan dan pendidikan selalu berjalan beriringan dan tak mau berjabat tangan. Data BPS tahun 2011 menunjukkan, jumlah penduduk usia 19-24 tahun (usia seseorang menempuh pendidikan tinggi) sekitar 24 juta jiwa. Sementara itu, angka partisipasi kasar (APK) PT adalah 18 persen. Artinya, penduduk usia tersebut yang mengenyam pendidikan tinggi 4,3 juta. Berarti ada 19,7 juta yang tidak bisa melanjutkan pendidikan di PT, sebagian besar karena tidak mampu membiayai biaya pendidikan tinggi yang sangat mahal.
Kemudian dengan adanya system kebijakan baru mengenai uang kuliah tunggal akankah justru menyelesaikan masalah kemiskinan dan pendidikan? Ataukah justru malah membalikkan kondisi baik pendidikan kita?
Ketika terbit UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, timbul harapan adanya keberpihakan pemerintah kepada rakyat miskin untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Pasal 74 Ayat 1 UU itu menyatakan, ”PTN wajib mencari dan menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan calon mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal untuk diterima paling sedikit 20 persen dari seluruh mahasiswa baru yang diterima dan tersebar pada semua program studi.”
UKT merupakan kebijakan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang tertuang dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (SE Dirjen Dikti) No. 488/E/T/2012. Harapan semakin menguat ketika Mendikbud dan Dirjen Dikti menginstruksikan uang kuliah tunggal (UKT) akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014. Dengan UKT, mahasiswa baru tak perlu membayar berbagai macam biaya, tetapi hanya membayar uang kuliah tunggal yang jumlahnya akan tetap dan berlaku sama pada tiap semester selama masa kuliah. Mendikbud menjanjikan, tidak akan ada lagi biaya tinggi masuk PTN. Pemerintah akan memberikan dana bantuan operasional pendidikan tinggi negeri (BOPTN).
Namun permasalahanya akankah dengan UKT biaya pendidikan di PT akan turun? Atau justru memberatkan mahasiswa??

Saat ini, semua PTN masih menghitung besaran UKT yang kemudian hasilnya diserahkan ke Ditjen Dikti untuk mendapat persetujuan dan ditentukan besaran BOPTN yang akan diberikan kepada masing-masing PTN. Besar kemungkinan UKT yang dihitung PTN tak banyak berbeda dengan biaya yang sudah berjalan saat ini. Kemungkinan PTN akan menghitungnya berdasarkan pembiayaan pendidikan tahun sebelumnya yang sudah telanjur mahal. Uang pangkal yang nilainya besar bisa saja diratakan untuk delapan semester sehingga kelihatan kecil.

Kalau kondisi ini yang terjadi, harapan UKT murah tidak akan terwujud, bahkan bisa jadi
akan lebih memberatkan. Seharusnya PTN menghitung secara cermat UKT dengan melakukan efisiensi pada pos-pos pembiayaan yang prioritasnya rendah sehingga bisa menekan UKT.

Kuliah dengan sistem kredit tak sesuai dengan biaya pendidikan yang tetap sepanjang masa studi. Misalnya untuk mahasiswa yang lulus lebih dari 8 semester, dia akan merasa keberatan jika harus membayar uang kuliah pada semester akhir dengan besar dan rincian sama seperti semester sebelumnya, katakanlah hanya kurang 4 sks dan dia harus membayar 5 juta per semester, itu dirasa akan sangat memberatkan mahasiswa yang hanya tinggal selangkah menyelesaikan program studi sarjananya.(Hilda Inaya I )