D3
adalah sebuah program strudi diploma yang dibuka khusus untuk mendalami bidang
keteknis an. Berbeda dengan s1 yang dicetak sebagai analitis. D3 lebih
mengedepankan praktik dari teori. Lulusan D3 akan dibutuhkan banyak perusahaan
didalam penggerak atau motor produksi. Kenapa? Karena tujuan pencetak generasi
d3 bergelut di praktik yang langsung turun ke lapangan.
Tapi
kenyataanya justru timbul kecemburuan social antara mahasiswa d3 dan s1.
Sudah
menjadi semacam rahasia umum di antara kita bahwa ada semacam “kasta” dalam
jenjang pendidikan tinggi. Yakni, kita tahu bahwa S1 dipandang lebih tinggi
dari D3, bahkan mungkin D4 sekalipun. Sebagai contoh dalam dunia kerja, CPNS
yang bergelar ahli madya ditempatkan pada golongan II/C, sedangkan yang
bergelar sarjana pada golongan III/A. Di berbagai lowongan kerja, lebih banyak
yang mencari lulusan S1 dibandingkan D3 dan D4. Jadi bukankah wajar jika banyak
calon mahasiswa yang mendamba-dambakan gelar sarjana muda daripada diploma?
Kemudian
baru- baru ini terdengar santer kebijakan baru undip yang akan berubah. Isu itu
berkembang dimana menyebutkan bahwa program d3 di Undip akan dirubah sistemnya
sama dengan Sekolah Vokasi d UGM atau diseragamkan menjadi 1 jurusan dengan
jenjang berbeda di masing-masing program studi. Misalnya untuk Teknik Kimia.
Yang semula ada beberapa jurusan Tekim dari D3, S1, S2,S3 yang dipisah akan
digabung didalam satu tingkat pengawasan.
Hal
itu memunculkan Protes dari mahasiswa yang
khususnya mahasiswa program D3. Sebenarnya mau dibawa kemana sih nasib
pendidikan mereka ini?
Apalagi
ada isu lagi bahwa program transfer lanjutan dari D3 ke S1 akan ditutup.
Kemudian bagaimana sistem keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia yang dalm UUD
berhak mendapatkan Pendidikan yang sama??
Seharusnya
ada kejelasan didalam implementasi perubahan sistem ini. Birokrasi harus tegas,
harus jelas. Jangan menelantarkan kami
para mahasiswa D3 yang seakan-akan dianak tirikan dengan mahasiswa S1.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan