Ahad, 22 September 2013

Teknik dan Indonesia


Berbicara tentang teknik dan Indonesia semuanya tidak lepas dari peran para pemuda di dalamnya. Pemuda harapan bangsa khususnya para mahasiswa memegang peran yang dominan. Mereka bukan hanya sebagai pelaku namun juga penggerak.  Mereka bukan hanya penentu namun juga pelopor. Yah, mahasiswa. Bukan hanya berfungsi sebagai agent of change namun juga social control. Mereka memiliki peran yang luas. Untuk perubahan dan nasib sebuah Negara.
Untuk mahasiswa teknik misalnya, sebutan akrab bagi mereka adalah engineer. Rasanya bangga sekali kalau kita mampu menyandang gelar dan sebutan itu. Perjalanan 4 th yang melelahkan terbayar sudah. Yang diingat bukan hanya kesibukan dikampus, namun sekarang keberhasilan yang menanti kita di depan.
Kalau kita kaji lebih dalam Kehidupan mahasiswa teknik itu begitu berwarna. Mari kita berbalik arah untuk kembali pada masa ketika kita masih mengenakan pakaian hitam putih. Dari mulai masuk pertama kita bertemu dengan orang-orang serupa. Berseragam sama, beratribut sama. Hitam-putih dengan ID card tergantung di kepala.
Teknik, kata orang mahasiswa-nya aktif. Kata orang kami inisiatif, kata orang pula kami kreatif. Hidup sebagai seorang mahasiswa teknik akan mengukir lembar tambahan  di kertas lampiran catatan hidup kita. Anak teknik harus mampu berada diatas mahasiswa fakultas lain, anak teknik harus berani, anak teknik harus disiplin. Anak teknik harus cekatan. Tak boleh ada alasan ini itu. Tak boleh ada ringkihan kelelahan. Yang diemban hanya harus tetap semangat.
Dari awal kita diajari untuk mengasah softskill kita, dari mulai masuk ke salah satu lembaga organisasi sampai kita keluar dan mampu memanagement diri. Sebut saja salah satunya BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa), atau HM(Himpunan Mahasiswa). Disini kita akan belajar banyak tentang management diri, me-management waktu bahkan me-management hidup. Masuk ke dalam sebuah organisasi akan memberi banyak ilmu baru, mengantongi pengalaman menarik dan menyalami dan berrtemu teman-teman yang beragam.
Yah, Engineer- sebutan ini akan melekat kuat dalam diri teman-teman semua.
BUKAN bermaksud mengatakan bahwa engineering adalah jurusan terbaik ataupun jurusan yang "wajib" untuk teman-teman ambil. Namun, Memang engineer –lah cermin kehidupan berwarna yang tengah kami jalani..
Mahasiswa teknik adalah mahasiswa yang harus mampu memecahkan masalah, mahasiswa yang harus bisa memakai logika dan perhitunga dalam mengambil keputusan. Mahasiswa teknik ini,  mahasiswa yang menjunjung tinggi  solidaritas, kekompakan, kekeluargaan dan rasa saling menghargai dan menyayangi antar mahasiswa yang tinggi. Sebagai seorang mahasiswa teknik kita harus siap menghadapi segala hal yang menyangkut tentang kehidupan, bukan hanya dalam portal sempit intern dalam kampus. Tapi kita harus punya pemikiran lain yang jauh lebih luas dalam perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Kalian punya andil yang besar dalam pembangunan Indonesia, kalian punya pengaruh yang besar dalam pengelolaan suatu Negara. Negara terpaku pada teman-teman engineer semua. Negara butuh kita.   
Kalau kita jangkau lebih dalam tentang kedudukan kalmi para mahasiswa teknik. Ada perbandingan yang luar biasa tentang hubungan kami para sarjana muda teknik dengan kemajuan Indonesia.   Dalam beberapa dekade ini, hampir setiap negara berkembang terus menggalakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pasalnya mau tidak mau semua negara harus berkompetisi mempersiapkan diri menuju era perdagangan bebas dunia sesuai dengan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan World Trade Organization (WTO), dimana era perdagangan bebas ini akan berdampak ganda, disatu sisi memberikan peluang kerja seluas-luasnya antar negara, namun disisi lain meberikan persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu tantangan dimasa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif disemua sektor industri dan sektor jasa.      
Melihat kenyataan inilah peran sarjana teknik di dalam melaksanakan perekonomian di Indonesia sangat dibutuhkan. Teman-teman lulusan Teknik akan menempati ruang yang besar di dalam kehidupan lanjut bangsa Indonesia. Padahal kenyataanya Jumlah sarjana teknik atau yang dulu disebut insinyur, ternyata sangat jauh dari kebutuhan.
Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa disampaikan bahwa saat ini Indonesia baru 11 persen dari seluruh total sarjana yang bergelar insinyur atau sekitar 1,05 juta dari 9,6 juta orang. Jika kondisi ini terus berlanjut, diperkirakan pada 2015 hingga 2025 mendatang, Indonesia kekurangan 15 ribu sarjana teknik per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah berencana menambah 100 politeknik baru, perguruan tinggi riset, dan perguruan tinggi pendidikan. Pemerintah juga bakal membuat 521 (satu per kabupaten/kota) akademi komunitas untuk tenaga terampil setempat.        
"Jangan sampai ketika pertumbuhan ekonomi bagus, kita malah kekurangan tenaga insinyur. Jangan sampai kekurangan ini diambil dari insinyur asing," kata mantan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa.
Oleh karena itu, teman-teman semua, penuhi kebutuhan sarjana teknik di Indonesia. Beri perubahan untuk Indonesia yang jauh lebih baik. Penuhi dan majukan sumber daya manusiaa. Semangat para engineer muda. Kita-lah diponegoro penerus bangsa.
Teknik JAYA!!