Berbicara tentang teknik dan Indonesia semuanya tidak lepas dari peran para pemuda di dalamnya. Pemuda harapan bangsa khususnya para mahasiswa memegang peran yang dominan. Mereka bukan hanya sebagai pelaku namun juga penggerak. Mereka bukan hanya penentu namun juga pelopor. Yah, mahasiswa. Bukan hanya berfungsi sebagai agent of change namun juga social control. Mereka memiliki peran yang luas. Untuk perubahan dan nasib sebuah Negara.
Untuk
mahasiswa teknik misalnya, sebutan akrab bagi mereka adalah engineer. Rasanya
bangga sekali kalau kita mampu menyandang gelar dan sebutan itu. Perjalanan 4
th yang melelahkan terbayar sudah. Yang diingat bukan hanya kesibukan dikampus,
namun sekarang keberhasilan yang menanti kita di depan.
Kalau
kita kaji lebih dalam Kehidupan mahasiswa teknik itu begitu berwarna. Mari kita
berbalik arah untuk kembali pada masa ketika kita masih mengenakan pakaian
hitam putih. Dari mulai masuk pertama kita bertemu dengan orang-orang serupa.
Berseragam sama, beratribut sama. Hitam-putih dengan ID card tergantung di
kepala.
Teknik,
kata orang mahasiswa-nya aktif. Kata orang kami inisiatif, kata orang pula kami
kreatif. Hidup sebagai seorang mahasiswa teknik akan mengukir lembar
tambahan di kertas lampiran catatan
hidup kita. Anak teknik harus mampu berada diatas mahasiswa fakultas lain, anak
teknik harus berani, anak teknik harus disiplin. Anak teknik harus cekatan. Tak
boleh ada alasan ini itu. Tak boleh ada ringkihan kelelahan. Yang diemban hanya
harus tetap semangat.
Dari
awal kita diajari untuk mengasah softskill kita, dari mulai masuk ke salah satu
lembaga organisasi sampai kita keluar dan mampu memanagement diri. Sebut saja
salah satunya BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa), atau HM(Himpunan Mahasiswa).
Disini kita akan belajar banyak tentang management diri, me-management waktu
bahkan me-management hidup. Masuk ke dalam sebuah organisasi akan memberi
banyak ilmu baru, mengantongi pengalaman menarik dan menyalami dan berrtemu
teman-teman yang beragam.
Yah, Engineer- sebutan
ini akan melekat kuat dalam diri teman-teman semua.
BUKAN bermaksud mengatakan
bahwa engineering adalah jurusan terbaik ataupun jurusan yang
"wajib" untuk teman-teman ambil. Namun, Memang engineer –lah cermin kehidupan berwarna yang tengah kami jalani..
Mahasiswa teknik adalah
mahasiswa yang harus mampu memecahkan masalah, mahasiswa yang harus bisa
memakai logika dan perhitunga dalam mengambil keputusan. Mahasiswa teknik
ini, mahasiswa yang menjunjung tinggi solidaritas, kekompakan, kekeluargaan dan
rasa saling menghargai dan menyayangi antar mahasiswa yang tinggi. Sebagai
seorang mahasiswa teknik kita harus siap menghadapi segala hal yang menyangkut
tentang kehidupan, bukan hanya dalam portal sempit intern dalam kampus. Tapi
kita harus punya pemikiran lain yang jauh lebih luas dalam perubahan menuju
Indonesia yang lebih baik. Kalian punya andil yang besar dalam pembangunan
Indonesia, kalian punya pengaruh yang besar dalam pengelolaan suatu Negara.
Negara terpaku pada teman-teman engineer semua. Negara butuh kita.
Kalau kita jangkau
lebih dalam tentang kedudukan kalmi para mahasiswa teknik. Ada perbandingan
yang luar biasa tentang hubungan kami para sarjana muda teknik dengan kemajuan
Indonesia. Dalam beberapa dekade ini,
hampir setiap negara berkembang terus menggalakan peningkatan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM), pasalnya mau tidak mau semua negara harus berkompetisi
mempersiapkan diri menuju era perdagangan bebas dunia sesuai dengan General
Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan World Trade Organization (WTO),
dimana era perdagangan bebas ini akan berdampak ganda, disatu sisi memberikan
peluang kerja seluas-luasnya antar negara, namun disisi lain meberikan
persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu tantangan dimasa mendatang
adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif disemua sektor
industri dan sektor jasa.
Melihat kenyataan
inilah peran sarjana teknik di dalam melaksanakan perekonomian di Indonesia
sangat dibutuhkan. Teman-teman lulusan Teknik akan menempati ruang yang besar
di dalam kehidupan lanjut bangsa Indonesia. Padahal kenyataanya Jumlah sarjana
teknik atau yang dulu disebut insinyur, ternyata sangat jauh dari kebutuhan.
Menurut Menteri Koordinator Perekonomian
Hatta Rajasa disampaikan bahwa saat ini Indonesia baru 11 persen dari seluruh
total sarjana yang bergelar insinyur atau sekitar 1,05 juta dari 9,6 juta
orang. Jika kondisi ini terus berlanjut, diperkirakan pada 2015 hingga 2025
mendatang, Indonesia kekurangan 15 ribu sarjana teknik per tahun. Untuk
memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah berencana menambah 100 politeknik baru,
perguruan tinggi riset, dan perguruan tinggi pendidikan. Pemerintah juga bakal
membuat 521 (satu per kabupaten/kota) akademi komunitas untuk tenaga terampil
setempat.
"Jangan sampai ketika pertumbuhan ekonomi
bagus, kita malah kekurangan tenaga insinyur. Jangan sampai kekurangan ini
diambil dari insinyur asing," kata mantan Menteri Perhubungan Hatta
Rajasa.
Oleh karena itu, teman-teman semua, penuhi
kebutuhan sarjana teknik di Indonesia. Beri perubahan untuk Indonesia yang jauh
lebih baik. Penuhi dan majukan sumber daya manusiaa. Semangat para engineer
muda. Kita-lah diponegoro penerus bangsa.
Teknik JAYA!!